Siang begitu cerah, panasnya surya, seakan melehkan isi kepala, membuat si Bodoh, seakan nampak semakin bodoh, tak tahu apa yang harus ia lakukan. Dalam keadaannya yang tanpa tempat tinggal, ia tak tahu, ke mana ia harus berlindung, dan ke mana ia harus pergi. Pakaian kusam, bau keringat—tak pernah mandi, menyengat, membuat si Bodoh serasa mau pingsan.
Mecoba mencari tempat berteduh, ia lakukan, karena sudah tak tahan ke panasan dan julukan “bodoh” yang ia sandang—hasil pemberian teman-temannya dulu. Terus melangkah, mengikuti gerak kaki, bola mata mengayun kanan-kiri, di ikuti gerak kepala yang seolah-olah mendapat perintah dari sang bola mata.
Tiba-tiba nampak di hadapannya sebuah bangunan tua, menghalangi pandangan bebas matanya, bangunan itu nampaknya sudah 50-an tahun berdiri. Ia memberanikan diri masuk, berteduh di bangunan itu, bangunan yang memiliki lorong gelap nan sepi, dan di dalam lorong terdapat ruang-ruang, nampak tak terawat.
Ia semakin bingung, meski terhindar dari panas, tapi ia tak tahu harus masuk ruangan mana. Tengak-tengok, ngamping di samping pintu ruangan, mencoba melihat isi ruangan nan samar dan gelap itu. Di dalam ruang, nampak beberapa orang, “nampaknya mereka juga berteduh disini” gumam si Bodoh. Akhirnya si Bodoh mencoba masuk ruang itu.
Layaknya seorang tamu, si Bodoh memohon pada pemuda yang telah lebih dulu ada di ruang itu, sosok pemuda, bertubuh kecil, sederhana, berparas tampan, potongan rambut mirip Andy Low, artis film yang pernah si Bodoh jumpai saat nonton teve milik tetangganya.
Di ruangan ini, si bodoh melihat banyak buku-buku kusam berserakan. “Sepertinya ia pemuda pintar,” batin si Bodoh,
“Apa kamu mau tinggal di sini” tanya pemuda itu,
“Ya, dengan senang hati, karena kebetulan aku tidak punya tempat tinggal” jawab si Bodoh.
Selama 15 menit mereka mengobrol, pemuda itu menceritakan, bahwa ia yang mengurusi bangunan tua ini dan si Bodoh menceritakan asal-muasal ia di juluki “si Bodoh”, ia berharap, pemuda itu mau membantu melepas julukan hina itu dari dirinya. Setalah beberapa menit ngobrol, pemuda itu mempersilahkan si Bodoh dan berkata, “Silahkan istirahat dulu, melihat wajahmu berkeringat, mengkilat, sepertinya kamu sangat lelah,”
“Terima kasih,” jawab si Bodoh, sambil mecari tempat yang nyaman untuk duduk, beristirahat.
Di tengah istirahatnya, si Bodoh heran pada pemuda itu, satu per satu orang masuk ruangan itu, mendatangi pemuda itu, mengharap, pemuda itu mau menerima mereka menjadi temannya. Si Bodoh bingung, dalam hatinya berkata, “hebat sekali pemuda ini, banyak orang bedatangan hanya untuk berteman dengannya.”
Tak lama, teman-teman pemuda itu pun semakin banyak, semua ikut tinggal di ruang itu. Suatu sore, menjelang malam, pemuda itu mengumpulkan teman-temannya termasuk si Bodoh, “rupanya pemuda itu ingin membuat suatu kegiatan untuk semua penghuni di sekitar gedung ini” gumam si Bodoh.
Bengong sejenak, si Bodoh tidak mengerti apa yang pemuda itu bicarakan dengan teman-temannya, termasuk dirinya sendiri. Rasa malu pun tibul dalam diri si Bodoh ini, kebodohan yang ia gelar, nampak jelas di mata pemuda itu dan teman-temannya. Dalam ke tidak tahuannya, si Bodoh sengaja diam, ia enggan bertanya, takut mengganggu mereka, mengalir menjadi jalan keluarnya, agar tetap bisa bertahan dan berteduh di ruangan itu.
Suatu ketika, si Bodoh keluar dari ruangan itu, meskipun sudah sering ke luar masuk gedung itu, tapi ia tak pernah menghiraukan siapa saja yang menempati ruang-ruang lain dalam gedung itu. Di saat ke luar dari ruangan yang selama ini ia tinggali, si Bodoh melihat sosok pemuda botak—gundul, dengan badan yang besar, mirip sekali dengan pentinju, sedang asyik memainkan kotak gepeng dengan tombol-tombol bertulisakan huruf abjad itu, dan kotak berdiri di hadapannya, macam, memunculkan gambar dan tulisan, warna-warninya.
Si Bodoh mencoba masuk ruangan itu, si Botak—pemuda botak, menyambutnya dengan senyum, “ehm…,” si Botak tetap asyik dengan mainnannya itu dan tak tahu apa yang sebenarnya ia lakukan. Si Bodoh mencoba mengawali perkenalan dengan si Botak itu, di sela asyiknya si botak memainkan tombol-tombol di hadapannya, si Bodoh menceritakan, bahwa ia ingin melepas julukan “bodoh” yang di sandangnya.
Tidak banyak respon dari si botak, ia langsung mengajari si Bodoh memainkan tombol-tombol yang biasa di mainkannya saat itu, “sudah, kamu belajarlah seperti yang aku lakukan ini,” tutur si Botak, “dengan ini, kamu akan menemukan banyak hal yang belum pernah kamu temui sampai saat ini.” Dari situ si Bodoh, lebih akrab dan lebih betah di ruangan itu dari pada di ruangan yang ia tinggali sebelumnya.
Si Botak tak banyak bicara, tidak suka basa-basi, selalu menjawab dengan tindakan, ketika si Bodoh bertanya. Itulah yang membuat si Bodoh betah di ruangan itu. Pernah, bahkan sering, nampak si Botak jengkel, ketika si Bodoh, tak bisa dengan cepat menangkap apa yang ia sampaikan. Tapi sepertinya, si Botak memiliki rasa peduli yang tinggi pada si Bodoh itu, mengulang dan mengulang, terus di lakukan si Botak, ketika menyampaikan apa yang di inginkan si Bodoh.
Mimpinya si Bodoh melepas julukannya, sudah mulai nampak, celah demi celah, ia temukan dari bermain kotak gepeng berterakan huruf-huruf tadi. Kini si Bodoh berusaha sendiri, membuka celah sempit, agar bisa ia lalui, karena si botak telah pergi meninggalkan bangunan tua itu. Di bangunan tua berlorong itu, si Bodoh berharap dan mencoba memberanikan diri untuk berkata, “selamat tinggal kebodohan.”
Pendidikan tidak bisa terlepas dari peran pendidik. Mutu pendidikan Indonesia sekarang masih sangat jauh tertinggal dari Negara-negara lain di dunia. Tidak bisa dibayangkan ketika di Negara yang agraris yang subur, perairan yang luas, dan barang tambang yang melimpah tapi pendidikan amat jauh tertinggal dari Negara-negara lain.
Dengan SDA tersebut, masyarakat harusnya tidak kekurangan pangan, tapi fakta yang ada ternyata masyarakat Indonesia kekurangan pangan. Salah satu faktor adalah disebabkan karena masyarakat Indonesia tidak mampu mengelola hasil buminya sendiri. Kenapa bisa seperti ini? Jelas pendidikanlah yang menyebabkan semua ini—lemahnya kualitas pendidikan Indonesia membuat masyarakat tidak bisa maksimal dalam mengelola hasil buminya sendiri.
Salah satu masalah penyebab lemahnya mutu pendidikan ialah karena pendidik yang kurang update informasi/ilmu pengetahuan. Pendidik yang tidak mau update perkembangan yang ada, sudah tentu gaya mengajar dan kemampuan mengajarnya bisa dikatakan ketinggalan jaman atau “Jadul” (Jaman dulu) dan bisa juga disebut “Jadulisme” pendidik. Maka untuk itu pendidik haruslah selalu update informasi perkembangan pendidikan, agar tidak tertinggal akan perkembangan yang ada.
Internet adalah media yang sangat efektif dalam upaya update informasi dan mencari trasferan ilmu pengetahuan bagi seorang pendidik. Gaptek adalah sebutan yang tepat bagi pendidik yang tidak mampu mengoperasikan computer dan tidak tahu dengan internet, padahal di dunia maya—internet tersebut banyak sekali yang bisa dididapatkan. Informasi di internet sangat lengkap, dari yang bertaraf nasional hingga internasional semua ada disini.
Info perkembangan di dunia, baik pendidikan, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya, semua bisa didapatkan hanya dengan mengakses melalui layanan internet—tanpa harus mendatanginya. Dan ini tentu jelas sangat berpengaruh sekali bagi pendidik dalam upaya peningkatan mutu pendidik dan kualitas pendidikan bangsa ini.
Internet
Pengertian internet itu sendiri adalah jaringan (Network) komputer terbesar di dunia. Jaringan berarti kelompok komputer yang dihubungkan bersama, sehingga dapat berbagi pakai informasi dan sumber daya (Shirky, 1995:2).
Perangkat yang dibutuhkan untuk mengakses internet ; 1. Komputer/laptop 2. Modem/HP sebagai modem+kabel data 3. Jaringangan telepon/Hp/Hotspot 4. Adanya sambungan dengan ISP (Internet Service Provider).
Peran internet terhadap peningkatan mutu pendidik.
Pendidik yang baik adalah pendidik yang selalu mengikuti perkembangan yang ada khususnya dalam dunia pendidikan. Berkorban dalam upaya untuk turut serta memajukan mutu generasi bangsa, sudah salah satu resiko yang harus dijalani seorang pendidik—seperti membeli buku, media pembelajaran, dsb. Hal yang paling efektif untuk update informasi dan mencari transferan ilmu pengetahuan dalam upaya peningkatan mutu pendidik adalah media internet.
Kalau cuma mengandalakan buku untuk memperkaya ilmu pengetahuan, hal ini sangat kurang efektif. Pendidik secara umum lebih mementingkan untuk biaya hidupnya sehari-hari dari pada untuk membeli buku. Karena harga buku sendiri tidaklah murah. Harga buku sekarang rata-rata puluhan ribu dan bahkan mencapai ratusan ribu. Bukan hanya itu, yang menjadi masalah, kadang buku yang sudah terlanjur dibeli isinya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Dengan kata lain, informasi/ilmu baru yang diharapkan tidak bisa didapatkan—kurang bermutu.
Berbeda jauh dengan internet. Media ini sangatlah efektif digunakan untuk mencari transferan ilmu pengetahuan, mencari informasi, berkomunikasi dan diskusi. Hanya dengan duduk manis di depan computer/laptop/HP—yang ada fasilitas internet, sudah bisa keliling dunia dan mengetahui perkembangan-perkembangan yang ada didunia ini. Tidak hanya itu, jika browsing di internet kita bisa memilih-milih sendiri dan langsung dapat membaca isi materi yang diharapkan.
Suatu contoh, ketika seorang pendidik ingin mencari informasi/ilmu pengetahuan baru dalam dunia pendidikan khusunya. Dengan fasilitas internet, seorang pendidik tingal menuliskan apa yang dinginkan pada “Searh Engines” atau mesin pencari dalam dunia Internet, yang artinya adalah pencarian segala informasi yang kita perlukan, yang bisa saja berupa data, file, gambar, musik, maupun film. Kemudian menge”klik” enter. Secara otomatis, mesin pencari akan mencarikan apa yang dinginkan dan orang tersebut tinggal memilih dan membaca tulisan yang sudah muncul dilayar monitor. Di internet juga tersedia buku pelajaran siswa gratis, dan kita tinggal men-downloadnya. seperti di alamat ini http://bse.depdiknas.go.id/. Di alamat tersebut kita dapat membaca secara online dan juga dapat mendownlodnya tanpa membeli.
Selain itu, internet juga bisa dijadikan ajang diskusi dengan sesama pendidik, calon pendidik, pengamat pendidikan, orang-orang yang peduli dengan pendidikan, kaum intelektual, dsb. Contohnya dengan membuat “blog” dan dalam blog tersebut pengelola blog menulis suatu masalah yang ditemukan dalam lembaga pendidikan tempat ia mengajar. Untuk mencari solusi tersebut pengelola blog bisa mengundang teman-teman untuk menanggapi masalah yang ada, selain itu tanpa mengundangpun dalam blog tersebut sudah bisa dibaca oleh orang lain dan mungkin juga pengunjung akan meninggalkan komentar dan solusi menurut pemikiran mereka masing-masing. Dari hasil komentar dan solusi ini tentu pengelola blog, tinggal memilih solusi yang mana yang sekiranya cocok untuk menjawab masalah yang ada. Begitu pula pengunujung blog, dia bisa tahu masalah yang ada dan melihat komentar dan solusi yang ada, sehingga secara tidak langsung, pengelola blog juga sudah turut membantu orang lain dalam upaya peningkatan mutu pendidik bukan hanya di Negara kita sendiri, tetapi dunia.
Di internet, banyak sekali group komunitas, dari ahli-ahli pendidikan, dosen, guru, dsb. Ini tentu sangat menguntungkan bagi seorang pendidik, karena dengan ini—tanpa berhadapan langsung dengan orang-orangnya, seorang pendidik yang belum tergabung dalam kumunitas tersebut bisa bergabung dan berdiskusi di dalam group tsb. Tidak hanya itu, seorang pendidik juga dapat menanyakan sesuatu dengan menggunakan E-mail yang bisa diakses di internet.
Hampir semua hal yang diharapkan seorang pendidik tersedia di internet. Saling berbagi pengalaman dengan sesama pendidik dan orang-orang yang peduli dengan pendidikan tentu akan mampu meningkatkan kualitas diri seorang pendidik.
Di lembaga pendidikan yang satu dengan yang lain tentu berbeda-beda masalahnya dan tentu jelas berbeda pula proses penyelesaian masalahnya. Dan hal itu juga bisa dijadikan ajang diskusi di dunia maya tersebut serta dapat pula dijadikan ajang untuk bertukar pengalaman sesama pendidik. Dengan update informasi di internet hal ini bisa meningkatkan “kesiapan” mengenai kemampuan menyelesaikan masalah-masalah yang ada maupun belum pernah dihadapi oleh seorang pendidik.
Penggunaan media internet ini jelas akan membantu pendidik dalam memperkaya informasi/ilmu pengetahuan. Secara tidak langsung bertambahnya ilmu pendidik maka bertambah pula kualitas pendidik dan dengan meningkatkan kualitas pendidik maka akan meningkat pula mutu pendidikan, sehingga apa yang menjadi keluhan bangsa ini bisa terjawab dengan meningkatnya mutu pendidikan Indonesia tercinta ini.
Kesimpulan
Tidak dapat dipungkiri bahwa internet memiliki pengaruh yang sangat besar dalam upaya peningkatan mutu pendidik. Karena dengan menggunakan layanan ini, pendidik bisa mendapatkan informasi yang mereka inginkan dan bisa selalu “up to date”.
Jika dibandingkan dengan buku, internet jangkauannya jelas lebih luas. Karena apa, hampir semua informasi tentang ilmu-ilmu pengetahuan yang baru ada di dalamnya.
Mencari informasi/ilmu pengetahuan yang baru dengan internet sangatlah efektif. Jika memiliki jaringan internet sendiri, jelas untuk mencari apa yang diharapkan, seorang pendidik tidak perlu keluar rumah. Ia bisa sambil melakukan pekerjaan yang lain pula. Misal ; sambil mengasuh anak kecil—bagi yang punya anak kecil, tiduran, dsb, yang intinya tidak keluar rumah dan menghemat biaya.
Kamis, 25 Desember 2008 yang bertepatan dengan hari Natal ini ada sebuah acara khitanan di desa Karang Panas, Kec. Jati-Blora. Acara tersebut dimeriahkan dengan mengundang grup campur sari “Bagong Mudho” yang berasal dari Doplang—desa tetangga.
Campursari dijadwalkan mulai pada pukul 20.00 WIB dan saat itu juga tiga penyanyi yang cantik-cantik beserta para pemain musiknya sudah siap berada diatas panggung yang berdiri di halaman rumah.
Didaerah ini jarang sekali Orkes Campursari berani manggung malam hari—karena khawatir akan berujung ricuh. Tidak tahu mendengar kabar darimana para anak-anak muda yang berasal kurang lebih jaraknya 7-10 km ini mendengar kalau di desa Karang Panas ini ada yang menanggap—mengundang Orkes Campursari, untuk memeriahkan acara khitanan tersebut.
Dasar “wong ndeso” mendengar kalau ada Orkes Campursari seperti itu saja, mereka langsung berbondong-bondong bersama teman-temannya sekampung. Mereka datang dengan sepeda motor, bertampang “sangar”, dan banyak juga yang berboncengan tiga—demi dapat melihat Orkes Campursari tersebut dan berjoged ria bersama teman-temannya.
Biasanya, anak-anak muda ini tidak lupa membawa bekal. Kadang beli dijalan dan kadang ada yang membeli di kampungnya sendiri. Bekal mereka ini adalah “arak” yang sudah berwujud campuran—ditambah minuman suplemen. Kalau mereka tidak membawa bekal, berarti mereka sudah “minum” sebelumnya di jalan/kampungnya.
Menurut teman saya, Orkes Campursari ini berlangsung kurang dari 1 jam, karena setahu mereka, jam 20.00 WIB persiapan dan belum sampai pukul 21.00 WIB Orkes Campursari sudah diakhiri oleh yang punya rumah—yang mengadakan acara.
Sungguh mengherankan ketika Orkes Campursari yang biasanya “full time” itu 3-4 jam dan ini hanya 1 jam.
Orkes Campursari ini diakhiri karena ada penonton yang tawuran dan menimbulkan masa yang akhirnya memporak-porandakan para tamu undangan dan juga kursi-kursi tempat duduk para tamu undangan. Tamu undanganpun langsung bubar, menyelamatkan diri dan pulang kerumah masing-masing. Dari kejadian ini polisi, membawa satu tersangka pemicu keributan terjadi dan dibawa ke Polsek Doplang.
Saya tidak melihat langsung kejadian ini, karena kedatangan saya di TKP sudah telat—semua sudah “bubar” termasuk para tamu undangan. Yang tersisa hanya orang-orang yang sibuk menata kursi dan membereskan panggung. Yang jelas, suasana rumah tersebut langsung sepi, seperti baru persiapan acara—bukan pas acaranya. “Kasian yang punya rumah, sudah mengeluarkan biaya banyak untuk mengundang Orkes Campursari, e….malah bubar!” dalam hati saya berkata.