Search:    
Advanced Search   
Posted:1/12/2009 - 0 comment(s) [ Comment ] - 0 trackback(s) [ Trackback ]
Category: Journal

 

Kamis, 25 Desember 2008 yang bertepatan dengan hari Natal ini ada sebuah acara khitanan di desa Karang Panas, Kec. Jati-Blora. Acara tersebut dimeriahkan dengan mengundang grup campur sari “Bagong Mudho” yang berasal dari Doplang—desa tetangga.

 

Campursari dijadwalkan mulai pada pukul 20.00 WIB dan saat itu juga tiga penyanyi yang cantik-cantik beserta para pemain musiknya sudah siap berada diatas panggung yang berdiri di halaman rumah.

 

Didaerah ini jarang sekali Orkes Campursari berani manggung malam hari—karena khawatir akan berujung ricuh. Tidak tahu mendengar kabar darimana para anak-anak muda yang berasal kurang lebih jaraknya 7-10 km ini mendengar kalau di desa Karang Panas ini ada yang menanggap—mengundang Orkes Campursari, untuk memeriahkan acara khitanan tersebut.

 

Dasar “wong ndeso” mendengar kalau ada Orkes Campursari seperti itu saja, mereka langsung berbondong-bondong bersama teman-temannya sekampung. Mereka datang dengan sepeda motor, bertampang “sangar”, dan banyak juga yang berboncengan tiga—demi dapat melihat Orkes Campursari tersebut dan berjoged ria bersama teman-temannya.

Biasanya, anak-anak muda ini tidak lupa membawa bekal. Kadang beli dijalan dan kadang ada yang membeli di kampungnya sendiri. Bekal mereka ini adalah “arak” yang sudah berwujud campuran—ditambah minuman suplemen. Kalau mereka tidak membawa bekal, berarti mereka sudah “minum” sebelumnya di jalan/kampungnya.

 

Menurut teman saya, Orkes Campursari ini berlangsung kurang dari 1 jam, karena setahu mereka, jam 20.00 WIB persiapan dan belum sampai pukul 21.00 WIB Orkes Campursari sudah diakhiri oleh yang punya rumah—yang mengadakan acara.

Sungguh mengherankan ketika Orkes Campursari yang biasanya “full time” itu 3-4 jam dan ini hanya 1 jam.

Orkes Campursari ini diakhiri karena ada penonton yang tawuran dan menimbulkan masa yang akhirnya memporak-porandakan para tamu undangan dan juga kursi-kursi tempat duduk para tamu undangan. Tamu undanganpun langsung bubar, menyelamatkan diri dan pulang kerumah masing-masing. Dari kejadian ini polisi, membawa satu tersangka pemicu keributan terjadi dan dibawa ke Polsek Doplang.

 

Saya tidak melihat langsung kejadian ini, karena kedatangan saya di TKP sudah telat—semua sudah “bubar” termasuk para tamu undangan. Yang tersisa hanya orang-orang yang sibuk menata kursi dan membereskan panggung. Yang jelas, suasana rumah tersebut langsung sepi, seperti baru persiapan acara—bukan pas acaranya. “Kasian yang punya rumah, sudah mengeluarkan biaya banyak untuk mengundang Orkes Campursari, e….malah bubar!” dalam hati saya berkata.

Delicious Digg Facebook Fark MySpace
Archive
Categories