Hari ini Pak Teyot Teblung si katak sangat senang. Ia menerima email dari sahabat penanya di Amerika. Namanya Pak Jack si kerbau. Beginilah isi emailnya: Hello Teyot Teblung Aku akan liburan dua bulan lagi. Aku berencana mengunjungi Negaramu, Indonesia. Aku berharap kau bisa menemaniku berkeliling Indonesia. Hormatku, Jack
(Today Mr. Teyot Teblung the frog is very happy. He got an email from his American pen's friend. His name is Mr. Jack the buffalo. Here the email is:
Hello Teyot Teblung, I will be in holiday next two months. I have a plan to go to your country, Indonesia. I wish you can accompany me to go around Indonesia. Best regard,
Jack)
II. Pak Teyot Teblung mencetak email dari Pak Jack. Sekarang, ia sedang menunjukkan email itu kepada dua sahabat terbaiknya, Pak Jaya Hadikusuma si ikan emas dan Bu Sina si udang. "Kamu harus mengajaknya berkeliling danau kita yang indah ini," nasihat Pak Jaya Hadikusyma. "Danau dimana kita tinggal sangat indah." "Kamu juga harus mengajaknya berkeliling kota lama Semarang. Ada banyak gedung tua dan indah di sana," kata Bu Sina. Pak Teyot Teblung menulis dua nasihat temannya di agendanya. (Mr, Teyot Teblung prints Mr. Jack's email. Now, he is showing the email to his two best friends, Mr. Jaya hadikusuma the golden fish and Mrs. Sina the prawn. "You have to ask him to go around our beautiful lake," advise Mr. Jaya hadikusuma. "The lake where we live in is very beautiful." "You have also to ask him to go around the old city in Semarang. There are many old and beautiful buildings there," says Mrs. Sasa. Mr. Teyot Teblung writes their two advices on his agenda.)
III. Pak Teyot Teblung juga mulai bekerja keras untuk menyambut sahabat penanya. Ia sedang merenovasi rumahnya. Ia juga sedang menanam banyak jenis bunga di depan rumahnya. Rumahnya kelihatan bersih dan rapi. (Mr. Teyot Teblung also starts working hard to welcome his friend. He is renovating his house. He is also planting many kinds of flowers in front of his house. His house seems to be clean and tidy.)
IV. Dua bulan berlalu. Liburan Pak Jack datang juga. Sayangnya, bukan Pak Jack yang dating tapi emailnya. Yang terhormat Teyot Teblung Aku minta maaf untuk memberitahumu bahwa aku tidka bisa dating ke negaramu liburan ini. Anak laki-laki keduaku sakit. Ia sudah berada di Rumah sakit selama dua hari. Doamu untuknya kuharap selalu. (Two months passed by Mr. Jack's vacation day is coming. Unfortunately, it is not Mr. Jack who is coming, but his email. Dear Teyot Teblung I am sorry to inform you that I can not come to your country in this vacation. My second son has been sick. He has hospitalized for two days. I need your prayer for him. Best regard
Jack)
V. Pak Teyot Teblung sangat kecewa. Tapi, ia mengerti keadaan Pak Jack. Sekarang ia sedang melamun di depan rumahnya yang indah bersih. (Mr. Teyot Teblung is very disapointed. But, he understands Mr. Jack's condition. Now, he is only day dreaming in his beautiful and clean house.)
VI. "Jangan sedih Teyot Teblung!" kata Pak Jaya Hadikusuma ketika ia melihat Pak Teyot Teblung sedang melamun. "Akan ada berkah setelah peristiwa ini. Lihatlah rumahmu! Sekarang rumahmu sangat indah." Pak Teyot Teblung sedang mencoba tersenyum sekarang. "Jaya benar," Bu Sina mendukung pendapat Pak Jaya. "Akan ada berkah. Setelah kesulitan akan ada kemudahan." "Kalian benar, Teman-temanku, " balas Pak Teyot Teblung. "Akan ada berkah."
("Don't be sad Teyot Teblung!" says Mr. Jaya Hadikusuma when he is seeing Mr. Teyot Teblung day dreams. "There will be a blessing after this experience. Look at your house! Now, itis so beautiful." Mr. Teyot Teblung is trying to smile now. "Jaya is right," Mrs. Sina supports Mr. Jaya's opinion. "There will be a blessing. After difficulty there will be ease." "You are right my friends," replies Mr. Teyot Teblung. "There will be a blessing.")
VII. (Mereka benar. Ada berkah. Keesokan harinya Pak Kupu Kupu mengetuk pintu rumah Pak Teyot Teblung. "Terimakasih, " kata Pak Kupu Kupu setelah Pak Teyot Teblung membuka pintu rumahnya. "untuk membiarkan kami mengambil nectar sebanyak-banyaknya dari bunga-bunga di depan rumahmu. "Sama-sama," balas Pak Teyot Teblung. "Sebagai balasannya, keluarga kami mengirimkan hadiah ini," kata Pak Kupu Kupu." "Kalian tak perlu melakukan ini," balas Pak Teyot Teblung. Akhirnya, Pak Teyot Teblung menerima hadiah dari keluarga Pak Kupu Kupu)
(They are right. There is a blessing. The next day a butterfly knocks Mr. Teyot Teblung's house. "Thank you," Mr. Butterfly says after Mr. Teyot Teblung opens the door. "for letting us to get nectar from your flowers." "You're welcome," Mr. Teyot Teblung replies. "As a reward, our family send this present," says Mr. Butterfly. "You don't need to do that," replies Mr. Teyot Teblung. "Please, accept it!" Finally, Mr. Teyot Teblung accepts Mr. Butterfly's present.)
VIII. Di hari lain Pak Rubah sedang berjalan melewati rumah Pak Teyot Teblung. Ia adalah fotografer dari sebuah majalah anak-anak. "rumah ini cocok untuk latar cover majalahku," pikir Pak Rubah. Pak Rubah mengetuk pintu rumah Pak Teryot Teblung. "Pak, kami ingin mengambil foto di depan rumahmu untuk cover sebuah majalah anak-anak," kata Pak Rubah setelah Pak Teyot Teblung mempersilakannya duduk. Dengan senang hati, Pak Teyot Teblung mengizinkan Pak Rubah mengambil foto Sebagai imbalannya, Pak Rubah memberi Pak Teyot Teblung sedikit uang. (Another day Mr. Fox is walking through Mr. Teyot Teblung's house. He is a photographer in a children's magazine. "This house is appropriate as the background of my magazine's cover," thinks Mr. fox. "Mr. Fox knocks Mr. Teyot Teblung's door. "Sir, we want to take a picture of in the front of your house for the cover of the children's magazine," says Mr. Fox after Mr. Teyot Teblung pleases him to sit. With a huge pleasure, Mr. Teyot Teblung allows him to take photos. As a reward, Mr. Fox gives him some money.)
ANASTASIA Anastasia adalah peri hutan Seribu Bunga yang sangat manis. Ia juga sakti. Ia mempunyai mantra yang mampu mengubah bentuk orang menjadi benda yang sangat disukainya. Sayangnya, ia juga sangat nakal. Ia pernah mengubah temannya, Anabela, menjadi bunga matahari. Ia juga pernah mengubah Peter, satu-satunya peri laki-laki yang ada di hutan Seribu Bunga, menjadi burung kakatua. Bahkan, ia pernah mengubah warna air sungai Pelangi menjadi merah. Peri-peri lain yang melihat itu tentu saja ketakutan. Tapi, di persembunyiannya Anastasia tertawa terbahak-bahak. Lalu……Bim salabim! Air sungai itu kembali ke warnanya semula. Tahulah peri-peri itu kalau ini adalah ulah Anastasia. “Menjengkelkan sekali,” gerutu mereka sambil meninggalkan tepian sungai. Wah, benar-benar peri yang nakal,ya! Pada suatu hari, Anastasia ketemu batunya. Ceritanya, hutan Seribu Bunga kedatangan tamu dari hutan Seribu Matahari. Salah satu rombongan peri Hutan Seribu Matahari adalah Genieve. Ia ini peri hutan yang manis dan sakti juga seperti Anstasia. Ketika melihat Genieve, Anastasia kumat nakalnya. Ia ingin mengubah Genieve menjadi pohon oak. Bim salabim! Apa yang terjadi? Bukan Genieve yang menjadi pohon oak. Tebak siapa yang berubah menjadi pohon oak? Anastasialah yang berubah mnejadi pohon oak. Peri-peri hutan Seribu Bunga yang pernah diubah bentuknya oleh Anastasia tertawa terbahak-bahak. Anastasia malu sekali. Ia tidak bisa mengubah diri ke bentuknya semula. Pohon oak itu pun mengeluarkan air mata. Anastasia sekarang merasakan bagaimana tidak enaknya berubah menjadi benda lain. Genieve iba juga melihat keadaan Anastasia. Ia memanggil ibunya. Bim salabim! Anastasia kembali ke bentuknya semula. Ia memandang teman-temannya. Ia mendatangi mereka satu-persatu, dan meminta maaf. Teman-temannya memaafkannya. Anastasia juga mendatangi ibu Genieve. Ia mengucapkan terima kasih atas bantuannya. Sebenarnya, mengapa Anastasia yang berubah menjadi pohon oak? Mengapa bukan Genieve yang memang ingin diubahnya menjadi pohon oak? Jawabannya mudah saja. Genieve mempunyai mantra pembalik dari mantra pengubah. Jadi, pada saat Anastasia menyerangnya dengan mantra pengubah, Genieve mempersiapkan mantra pembaliknya. Anastasia yang tidak tahu kalau Genieve mempunyai mantra pembalik, tidak sempat mengelak. Ia terkena mantranya sendiri. Jadilah ia merasakan menjadi pohon oak. Setelah peristiwa yang memalukan itu, Anastasia berubah menjadi peri yang baik. Mantra yang dimilikinya tidak digunakan sembarangan. Ia hanya mengubah peri-peri yang suka mencuri atau peri-peri yang suka bertengkar menjadi benda-benda yang disukainya. Peri yang baik seperti Anabela dan Peter, tak pernah lagi merasakan kejahilannya. Bahkan, Anastasia pernah menjadi pahlawan bagi Hutan Seribu Bunga. Hal ini terjadi ketika ada satu raksasa mengamuk di hutan Seribu Bunga. Ia mengubah raksasa itu menjadi seekor lalat. Tidak mudah, lho, mengubah raksasa menjadi lalat. Tubuhnya yang sangat kuat membuat raksasa itu kebal terhadap mantra. Tapi, dengan kecerdikannya, Anastasia berhasil mengubah raksasa itu. Ia lepaskan mantra pengubah itu tepat mengenai mata raksasa. Berubahlah raksasa menjadi seekor lalat. Ia juga menjadikan Genieve sebagai sahabat penanya. Ia sering menulis surat kepada Genieve. Ia menceritakan pengalaman-pengalaman serunya. Genieve juga membalas surat-surat dari Anastasia dengan pengalaman yang tak kalah serunya. Begitulah, ternyata persahabatan bisa dimulai dari persaingan atau dalam kasus Anastasia dan Genieve – persahabatan berawal dari keinginan mempermain kan orang lain yang gagal total.
Kainan adalah seekor burung nuri yang tinggal di Hutan Utara. Sebuah hutan yang asri, tenang, dan damai. Ia tinggal di sebuah sarang yang terletak dia atas pohon akasia. Ia tinggal bersama ibunya yang sangat dicintainya. Di Hutan Utara juga tinggal Langkar si buaya, Bim Bim si gajah, Klang-Klang si Elang, Rintel si kelinci, dan masih banyak lagi binatang yang tinggal di sana. Hari ini matahari bersinar cerah, bunga-bunga bermekaran, dan air sungai Pelangi pun mengalir tenang. Kainan dan Rintel si kelinci sedang dalam perjalanan menuju Hutan Selatan. Mereka akan mengunjungi danau Peri. Sebuah danau yang penuh bunga jika musim hujan tiba. Kainan terbang di depan. Namun, sesekali tubuhnya hinggap di atas telinga Rintel. Rintel tidak marah melihat kelakuan Kainan. Ia malah senang karena Kainan juga menyanyi dengan merdunya. Namun,… " Kainan, ada apa?" tanya Rintel. " Mengapa kamu berhenti menyanyi?" " Itu," jawab Kainan sambil menunjuk sesuatu. Rintel segera melihat ke arah yang ditunjuk Kainan. Ia melihat seekor beruang besar tertindih sebatang pohon yang tak kalah besarnya. Rintel segera berlari menuju beruang tersebut. " Kainan!" panggil Rintel. "Kau harus mencari Bim Bim si gajah. Beruang ini akan mati pelan-pelan, kalau kita tidak memindahkan batang pohon ini dari tubuhnya." Kainan tidak perlu disuruh dua kali. Ia segera terbang mencari Bim Bim si gajah. " Ia pasti ada di sungai Pelangi. Carilah di sana!" Rintel berteriak begitu melihat Kainan terbang meninggalkannya. Kainan terbang menuju tempat yang disarankan Rintel, sungai Pelangi. Di tengah perjalanan Kainan bertemu dengan Klang-Klang si Elang. Ia menghentikan Klang-Klang dan bercerita tentang nasib yang menimpa beruang. Klang-Klang tak begitu mempedulikan cerita tersebut. "Maaf Nan," katanya. " Papa dan mamaku sudah menunggu di danau Peri. Aku harus segera ke sana. Ada pertemuan keluarga." Setelah itu, Klang-Klang meninggalkan Kainan yang termangu sendirian. "Sebenarnya," katanya dalam hati. " Kalau aku mau jujur, aku lebih memilih untuk pergi ke Danau Peri. Di sana…." " Ah tidak…." Kainan berkata sambil mengelengkan kepalanya. "Menolong orang lain lebih penting daripada mementingkan diri sendiri." Kainan akhirnya melanjutkan perjalanannya. *** Sungai Pelangi sudah ada di hadapan mata. Kainan langsung terbang menuju tempat Bim Bim mandi. Di sebuah cerukan yang terletak agak jauh di hilir sungai. Di sana Kainan melihat Bim Bim dan kedua orang tuanya sedang bermain riang. Bim Bim tampak tertawa-tawa senang ketika kedua orang tuanya menyiraamkan air ke tubuhnya dengan belalainya yang panjang. Kainan agak enggan mengganggu kesenangan Bim Bim dan keluarganya. Namun, Bim Bim yang melihat kedatangan Kainan menghentikan tawanya. " Ada apa, Nan?" Kainan diam saja. " Ada yang bisa kubantu?" " Begini…..," Kainan tampak ragu-ragu. " Ceritakanlah, Nak," kata ayah Bim Bim ketika melihat Kainan begitu gelisah. Kainan akhirnya punya keberanian untuk menceritakan masalahnya. " O, begitu," kata Bim Bim sambil tersenyum setelah mendengar cerita Kainan. " Aku akan membantu beruang itu." Bim Bim berkata sambil memandang kedua orang tuanya. "Bukankah begitu sifat seorang ksatria, Dad, Mom." Kedua orang tua Bim Bim mengangguk pelan. Dalam hati mereka bangga akan perbuatan Bim Bim. "Pergilah, Nak," kata ayah Bim Bim. " Kalau butuh bantuan kami, kau tau 'kan apa yang harus kau lakukan?" Bim Bim mengangguk, menjawab pertanyaannya ayahnya. "Kita berangkat sekarang, Nan," kata Bim Bim sambil berjalan. Kainan mengikuti dengan gembira. " Kedua orang tuamu," kata Kainan. " Mereka baik, ya?" Bim Bim hanya tersenyum mendengar pujian itu. **** " Itu mereka," teriak Kainan sambil menunjuk ke arah Rintel yang sedang memberi minum beruanhg yang tubuhnya tertindih sebatang pohon. Kainan terbang cepat, diikuti Bim Bim yang berjalan tak kalah cepatnya. Tak lama kemudian, hidung panjang Bim Bim mulai bekerja. Ia mengangkat batang pohon yang menindih beruang malang tersebut. Rintel dan Kainan mencoba membantu Bim Bim sebisanya. Tak lama kemudian beruang itu sudah terlepas dari pohon besar yang menindihnya. Bruang itu mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada Bim Bim, Rintel, dan Kainan. Sebagai ungkapan terimakasih, beruang itu mengundang mereka ke rumahnya. Ajakan itu tak sanggup ditolak Bim Bim dan kawan-kawan. Mereka pun mampir ke rumah Honeybee si beruang. (Akhirnya, Kainan tahu juga nama beruang itu.) Honeybee ternyata seekor beruang yang pandai memasak. Ia menjamu tamu-tamunya dengan makanan yang lezat. Kainan, Rintel, dan Bim Bim pun makan dengan lahap. Tak ada lagi penyesalan di hati Kainan dan Rintel karena tidak bisa melihat danau Peri. Sebaliknya, mereka semua sangat bahagia karena mendapatkan teman baru dan juga makanan yang lezat.
ASHLEY, SAHABAT PENAKU Ashley adalah sahabat penaku. Ia berasal dari Amerika. California tepatnya. Aku mengenalnya di Kute liburan semesteran lalu. Ia sedang asyik membuat istana pasir ketika aku mendekatinya dan menawarinya permen. Ayahkulah yang memaksaku menawarinya permen. Ia ingin aku mempraktekkan bahasa Inggris yang sudah kupelajari sejak kelas II SD. Sekarang aku kelas lima. “Do you want candies?” Ashley melihatku sebentar sebelum mengangguk. Aku memberikan permen yang ada di tanganku. Ia menerimanya, membuka bungkusnya dan langsung memasukkan ke mulutnya. “What’s your name?” “Ashley,” jawabnya masih dengan mulut penuh permen. “Where are you from?” “America.” Setelah itu, hanya ada diam diantara kami. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi. “Are you alone here?” tanyanya memecah kesunyian. Aku berpikir sebentar mendengar pertanyaannya. Kalimat yang belum terbiasa di tanganku. “No,” jawabku akhirnya. “I with my father.” Aku berkata sambil menujuk ayahku yang sekarang sedang dikepang rambutnya. Ayahku melambaikan tangannya ke arah kami. “Do you want to…..”Aku tak tahu harus melanjutkan kalimatku dengan kata apa. Aku hanya menunjuk ayahku dan dirinya, kemudian kedua tanganku langsung berjabat tangan. Ia mengerti yang kumaksudkan. Ia mengangguk Aku memperkenalkan Ashley pada ayahku. “Are you alone here, honey?” Tanya ayahku. Ashley menggeleng menjawab pertanyaan ayahku. “I’m with my father and my mother. They are surfing now.” “Are you not afraid?” Ashley menggeleng. “I don’t like surfing. So, they leave me to make sand castle until he offers me some candies.” Pada perkenalan ini, ayahku juga menyuruhku menanyakan e-mailnya. Walaupun aku tak tahu apa itu e-mail, aku mengikuti perintah ayahku juga. Ayahku berjanji akan membuatkan e-mail untukku. Orang tua Ashley akhirnya selesai selancar juga. Ashley memperkenalkan mereka pada aku dan ayahku. **** Setelah perkenalan di Kute, persahabatanku dengan Ashley dimulai lewat alat komunikasi yang bernama e-mail. Ashley sering bercerita tentang kegiatannya di California. Daalam e-mailnya yang terakhir Ashley bercerita tentang kegiatan amalnya. Ia dan teman-temannya sekarang sedang mengumpulkan baju bekas dan uang untuk disumbangkan ke rakyat Bangladesh yang sekarang sedang menderita karena banjir. Aku mengagumi apa yang dilakukan Ashley. Ya, walaupun kami sama-sama kelas lima, aku belum bisa melakukan apa yang telah dilakukannya. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana cara meminta sumbangan kepada orang-orang. Ketika Aceh berduka karena tsunami yang maha dahsyat, Ashley dalam e-mailnya bercerita: Aku turut berduka atas musibah yang menimpa Aceh. Sekarang aku dan teman-teman sedang berjuang mengumpulkan uang dan alat-alat sekolah untuk disumbangkan ke sana. Kami akan menyalurkannya lewat PBB. Setelah membaca e-mail itu, aku merasakan malu yang luar biasa. Walaupun aku telah menyumbang lewat sekolah, uang yang digunakan dalah uang orang tuaku. Aku tidak melakukan tindakan apapun juga. Tidak seperti Ashley, yang ikhlas meluangkan waktunya untuk melakukan itu semua. Aku pun memperlihatkan e-mail itu pada ayahku. “Apa yang kau inginkan, Bud?” “Aku ingin melakukan apa yang Ashley lakukan,” jawabku tanpa berpikir lama. (Karena aku sudah berpikir lama sebelumnya.) Ayahku menhgerti maksudku. Ia menyuruhku menghubungi lima teman dekatku, dan mengundang mereka ke rumah. Aku menuruti perintah ayahku. Menunggu temanku datang, ayahku melatihku berbicara. Ia melatihku bagaimana cara menyampaikan ide tentang amal untuk Aceh kepada lima temanku yang sebentar lagi datang ke rumah. Ketika teman-temanku datang, aku menyampaikan maksudku mengundang mereka. Aku menyampaikan bagaimana kalau kita mengumpulkan setengah dari mainan yang kita punyai untuk disumbangkan ke Aceh. Selain itu, kita juga mengumpulkan baju-baju bekas untuk disumbangkan juga. Teman-temanku taampak mengangguk-angguk mendengar pidatoku. Mereka bahkan berjanji akan mengajak orang tua mereka bergabung dalam kegiatan amal ini. Mereka juga akan mengajak teman-teman mereka yang tinggal di sekitar rumah mereka. **** Kegiatan sosialku yang pertama berjalan dengan lancar. Tidak sesulit dengan yang kubayangkan. Kami berhasil mengumpulkan lima kardus mainan, dua kardus alat-alat sekolah, satu kardus buku bacaan, lima kardus baju bekas layak pakai dan sedikit uang. Aku sangat berterima kasih pada Ashley yang lewat e-mailnya banyak bercerita tentang kegiatan amal yang dilakukannya. Aku juga sangat berterima kasih pada ayahku, yang dengan sabar mengajariku berbicara hingga aku berhasil berpidato di depan teman-temanku. Sekarang aku merasakan keindahan berbagi dengan sesama.****
Kainan adalah seekor burung nuri yang tinggal di Hutan Utara. Sebuah hutan yang asri, tenang, dan damai. Ia tinggal di sebuah sarang yang terletak dia atas pohon akasia. Ia tinggal bersama ibunya yang sangat dicintainya. Di Hutan Utara juga tinggal Langkar si buaya, Bim Bim si gajah, Klang-Klang si Elang, Rintel si kelinci, dan masih banyak lagi binatang yang tinggal di sana. Hari ini matahari bersinar cerah, bunga-bunga bermekaran, dan air sungai Pelangi pun mengalir tenang. Kainan dan Rintel si kelinci sedang dalam perjalanan menuju Hutan Selatan. Mereka akan mengunjungi danau Peri. Sebuah danau yang penuh bunga jika musim hujan tiba. Kainan terbang di depan. Namun, sesekali tubuhnya hinggap di atas telinga Rintel. Rintel tidak marah melihat kelakuan Kainan. Ia malah senang karena Kainan juga menyanyi dengan merdunya. Namun,… " Kainan, ada apa?" tanya Rintel. " Mengapa kamu berhenti menyanyi?" " Itu," jawab Kainan sambil menunjuk sesuatu. Rintel segera melihat ke arah yang ditunjuk Kainan. Ia melihat seekor beruang besar tertindih sebatang pohon yang tak kalah besarnya. Rintel segera berlari menuju beruang tersebut. " Kainan!" panggil Rintel. "Kau harus mencari Bim Bim si gajah. Beruang ini akan mati pelan-pelan, kalau kita tidak memindahkan batang pohon ini dari tubuhnya." Kainan tidak perlu disuruh dua kali. Ia segera terbang mencari Bim Bim si gajah. " Ia pasti ada di sungai Pelangi. Carilah di sana!" Rintel berteriak begitu melihat Kainan terbang meninggalkannya. Kainan terbang menuju tempat yang disarankan Rintel, sungai Pelangi. Di tengah perjalanan Kainan bertemu dengan Klang-Klang si Elang. Ia menghentikan Klang-Klang dan bercerita tentang nasib yang menimpa beruang. Klang-Klang tak begitu mempedulikan cerita tersebut. "Maaf Nan," katanya. " Papa dan mamaku sudah menunggu di danau Peri. Aku harus segera ke sana. Ada pertemuan keluarga." Setelah itu, Klang-Klang meninggalkan Kainan yang termangu sendirian. "Sebenarnya," katanya dalam hati. " Kalau aku mau jujur, aku lebih memilih untuk pergi ke Danau Peri. Di sana…." " Ah tidak…." Kainan berkata sambil mengelengkan kepalanya. "Menolong orang lain lebih penting daripada mementingkan diri sendiri." Kainan akhirnya melanjutkan perjalanannya. *** Sungai Pelangi sudah ada di hadapan mata. Kainan langsung terbang menuju tempat Bim Bim mandi. Di sebuah cerukan yang terletak agak jauh di hilir sungai. Di sana Kainan melihat Bim Bim dan kedua orang tuanya sedang bermain riang. Bim Bim tampak tertawa-tawa senang ketika kedua orang tuanya menyiraamkan air ke tubuhnya dengan belalainya yang panjang. Kainan agak enggan mengganggu kesenangan Bim Bim dan keluarganya. Namun, Bim Bim yang melihat kedatangan Kainan menghentikan tawanya. " Ada apa, Nan?" Kainan diam saja. " Ada yang bisa kubantu?" " Begini…..," Kainan tampak ragu-ragu. " Ceritakanlah, Nak," kata ayah Bim Bim ketika melihat Kainan begitu gelisah. Kainan akhirnya punya keberanian untuk menceritakan masalahnya. " O, begitu," kata Bim Bim sambil tersenyum setelah mendengar cerita Kainan. " Aku akan membantu beruang itu." Bim Bim berkata sambil memandang kedua orang tuanya. "Bukankah begitu sifat seorang ksatria, Dad, Mom." Kedua orang tua Bim Bim mengangguk pelan. Dalam hati mereka bangga akan perbuatan Bim Bim. "Pergilah, Nak," kata ayah Bim Bim. " Kalau butuh bantuan kami, kau tau 'kan apa yang harus kau lakukan?" Bim Bim mengangguk, menjawab pertanyaannya ayahnya. "Kita berangkat sekarang, Nan," kata Bim Bim sambil berjalan. Kainan mengikuti dengan gembira. " Kedua orang tuamu," kata Kainan. " Mereka baik, ya?" Bim Bim hanya tersenyum mendengar pujian itu. **** " Itu mereka," teriak Kainan sambil menunjuk ke arah Rintel yang sedang memberi minum beruanhg yang tubuhnya tertindih sebatang pohon. Kainan terbang cepat, didikuti Bim Bim yang berjalan tak kalah cepatnya. Tak lama kemudian, hidung panjang Bim Bim mulai bekerja. Ia mengangkat batang pohon yang menindih beruang malang tersebut. Pada saat yang bersamaan, dari angkasa jatuh seekor burung. Rintel buru-buru menengadahkan tangannya untuk menangkap burung itu. " Kena," teriaknya kegirangan. Kainan terkejut melihat burung yang baru ditangkap Rintel. "Klang-Klang," panggilnya. Klang-Klang tak menjawab. Wajahnya tampak menahan sakit yang luar biasa. " Apa yang terjadi padamu? Bukannya kamu….?" "Kainan, jangan banyak bicara," Bim Bim mengingatkan Kainan. " Ia butuh dibawa ke tabib. Kalau melihat lukanya, hanya…." "Paman Langkar yang bisa menyembuhkannya," sahut Kainan cepat. "Kamu kuat membawanya ke tempat paman Langkar?" Kainan tampak berpikir sebentar. Kalau melihat perbandingan tubuhnya dan tubuh Klang-Klang, ia pasti tidak kuat membawa tubuh itu di punggungnya. Tapi,….Klang-Klang butuh bantuan. Kainan pun mengangguk cepat. Rintel buru-buru meletakkan tubuh KLang-Klang ke punggung Kainan. Kainan segera terbang menuju rumah Langkar si buaya. **** " Jangan sedih, Nan!" hibur Rintel begitu melihat Kainan datang dari rumah Langkar. "Lain kali, kita bisa pergi ke Danau Peri." " Iya, Nan," sahut Bim Bim. " Aku gak sedih kok," jawab Kainan pelan. " Hanya saja……" Kainan tampak ragu-ragu melanjutkan ucapannya. " Hanya saja apa? " tanya Rintel. Kainan masih diam. " Hanya saja apa?" ganti Bim Bim yang bertanya. " Hanya saja, aku menyadari satu hal hari ini," kata Kainan akhirnya. " Kebahagiaan sejati akan kita dapatkan ketika kita bisa membuat orang lain tersenyum dan bahagia." " Maksudmu?" Bim Bim bertanya tak mengerti. "Apa yang kau rasakan, Bim" tanya Kainan. "ketika kau berhasil menyelamatkan beruang itu?" Bim Bim terdiam sebentar. "Aku bahagia sekali," jawab Bim Bim akhirnya. "Aku juga bahagia sekali ketika aku berhasil membawa Klang-Klang ke rumah paman Langkar," Kainan mengakui perasaannya. " Apalagi ketika mengetahui Paman Langkar berhasil menyembuhkan luka yang diderita Klang-Klang, kebahagiaan itu semakin terasa." "Kau benar, Nan," kata Bim Bim dan Rintel dalam hati. " Kebahagiaan sejati akan datang ketika kita bisa berguna bagi orang lain. Meski untuk itu, kita harus mengorbankan kepentingan diri kita sendiri."****