Search:    
Advanced Search   
Posted:1/12/2009 - 3 comment(s) [ Comment ] - 0 trackback(s) [ Trackback ]

ASHLEY, SAHABAT PENAKU
 Ashley adalah sahabat penaku. Ia berasal dari Amerika. California tepatnya. Aku mengenalnya di Kute liburan semesteran lalu. Ia sedang asyik membuat istana pasir ketika aku mendekatinya dan menawarinya permen. Ayahkulah yang memaksaku menawarinya permen. Ia ingin aku mempraktekkan bahasa Inggris yang sudah kupelajari sejak kelas II SD. Sekarang aku kelas lima.
 “Do you want candies?”
 Ashley melihatku sebentar sebelum mengangguk. Aku memberikan permen yang ada di tanganku. Ia menerimanya, membuka bungkusnya dan langsung memasukkan ke mulutnya.
 “What’s your name?”
 “Ashley,” jawabnya masih dengan mulut penuh permen.
 “Where are you from?”
 “America.”
 Setelah itu, hanya ada diam diantara kami. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi.
 “Are you alone here?” tanyanya memecah kesunyian.
 Aku berpikir sebentar mendengar pertanyaannya. Kalimat yang belum terbiasa di tanganku.
 “No,” jawabku akhirnya. “I with my father.” Aku berkata sambil menujuk ayahku yang sekarang sedang dikepang rambutnya. Ayahku melambaikan tangannya ke arah kami.
 “Do you want to…..”Aku tak tahu harus melanjutkan kalimatku dengan kata apa. Aku hanya menunjuk ayahku dan dirinya, kemudian kedua tanganku langsung berjabat tangan. Ia mengerti yang kumaksudkan. Ia mengangguk
 Aku memperkenalkan Ashley pada ayahku.
 “Are you alone here, honey?” Tanya ayahku.
 Ashley menggeleng menjawab pertanyaan ayahku. “I’m with my father and my mother. They are surfing now.”
 “Are you not afraid?”
 Ashley menggeleng. “I don’t like surfing. So, they leave me to make sand castle until he offers me some candies.”
 Pada perkenalan ini, ayahku juga menyuruhku menanyakan e-mailnya. Walaupun aku tak tahu apa itu e-mail, aku mengikuti perintah ayahku juga. Ayahku berjanji akan membuatkan e-mail untukku.
 Orang tua Ashley akhirnya selesai selancar juga. Ashley memperkenalkan mereka pada aku dan ayahku.
****
 Setelah perkenalan di Kute, persahabatanku dengan Ashley dimulai lewat alat komunikasi yang bernama e-mail. Ashley sering bercerita tentang kegiatannya di California. Daalam e-mailnya yang terakhir Ashley bercerita tentang kegiatan amalnya. Ia dan teman-temannya sekarang sedang mengumpulkan baju bekas dan uang untuk disumbangkan ke rakyat Bangladesh yang sekarang sedang menderita karena banjir.
 Aku mengagumi apa yang dilakukan Ashley. Ya, walaupun kami sama-sama kelas lima, aku belum bisa melakukan apa yang telah dilakukannya. Aku selalu bertanya-tanya bagaimana cara meminta sumbangan kepada orang-orang.
 Ketika Aceh berduka karena tsunami yang maha dahsyat, Ashley dalam e-mailnya bercerita:
 Aku turut berduka atas musibah yang menimpa Aceh. Sekarang aku dan teman-teman sedang berjuang mengumpulkan uang dan alat-alat sekolah untuk disumbangkan ke sana. Kami akan menyalurkannya lewat PBB.
 Setelah membaca e-mail itu, aku merasakan malu yang luar biasa. Walaupun aku telah menyumbang lewat sekolah, uang yang digunakan dalah uang orang tuaku. Aku tidak melakukan tindakan apapun juga. Tidak seperti Ashley, yang ikhlas meluangkan waktunya untuk melakukan itu semua.
 Aku pun memperlihatkan e-mail itu pada ayahku.
 “Apa yang kau inginkan, Bud?”
 “Aku ingin melakukan apa yang Ashley lakukan,” jawabku tanpa berpikir lama. (Karena aku sudah berpikir lama sebelumnya.)
 Ayahku menhgerti maksudku. Ia menyuruhku menghubungi lima teman dekatku, dan mengundang mereka ke rumah. Aku menuruti perintah ayahku. Menunggu temanku datang, ayahku melatihku berbicara. Ia melatihku bagaimana cara menyampaikan ide tentang amal untuk Aceh kepada lima temanku yang sebentar lagi datang ke rumah.
 Ketika teman-temanku datang, aku menyampaikan maksudku mengundang mereka. Aku menyampaikan bagaimana kalau kita mengumpulkan setengah dari mainan yang kita punyai untuk disumbangkan ke Aceh. Selain itu, kita juga mengumpulkan baju-baju bekas untuk disumbangkan juga. Teman-temanku taampak mengangguk-angguk mendengar pidatoku. Mereka bahkan berjanji akan mengajak orang tua mereka bergabung dalam kegiatan amal ini. Mereka juga akan mengajak teman-teman mereka yang tinggal di sekitar rumah mereka.
****
 Kegiatan sosialku yang pertama berjalan dengan lancar. Tidak sesulit dengan yang kubayangkan. Kami berhasil mengumpulkan lima kardus mainan, dua kardus alat-alat sekolah, satu kardus buku bacaan, lima kardus baju bekas layak pakai dan sedikit uang. Aku sangat berterima kasih pada Ashley yang lewat e-mailnya banyak bercerita tentang kegiatan amal yang dilakukannya. Aku juga sangat berterima kasih pada ayahku, yang dengan sabar mengajariku berbicara hingga aku berhasil berpidato di depan teman-temanku. Sekarang aku merasakan keindahan berbagi dengan sesama.****

 

Delicious Digg Facebook Fark MySpace